Selasa, 24 April 2012

DINAMIKA MAHASISWA DAN BUDAYA KORUPSI


Mahasiswa sudah pasti orang yang berpendidikan, pada hakekatnya pendidikan adalah  tahapan proses dimana bangku pendidikan mampu membangkitkan kekuatan dan harga diri dari rasa ketidak mampuan, ketidakberdayaan, dan keserbakekurangan. Banyak masyarakat yang melihat  sesosok mahasiswa dengan berbagai macam pandangan antara lain bahwa mahasiswa bakal menjadi penerus-penerus bangsa, mahasiswa dibekali ilmu yang berbeda dengan tingkatan seperti SD,SMP,dan SMA.

dimata orang lain maupun orang tua mahasiswa itu sendiri sangatlah diharapkan bahwa ketika mereka sudah menjadi sarjana begitu besar  harapan-harapan bangsa maupun orang tua agar menjadi orang yang berguna dan bermanfaat serta memberi pencerahan yang selalu menutupi kesengsaraan Negara yang merdeka ini. Dari zaman orde lama,orde baru maupun zaman sekarang, mahasiswa sangatlah kental dengan wadah organisasi yang berada di internal kampus maupun eksternal kampus.

Melihat dinamika mahasiswa pada saat ini terutama di Bangka Belitung ada beberapa kategori mahasiswa dari berbagai macam sifatnya, pertama ada mahasiswa yang tidak perduli akan persoalan dilingkungannya artinya mahasiswa tersebut hanya ingin mencari ilmu di universitas saja dan mengejar IPK sebesar-besarnya serta ketika sudah menjadi seorang sarjana bagaimana caranya dapat bekerja dan menghasilkan uang agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya mahasiswa seperti ini NATO... No Action, Talk Only,  kedua mahasiswa yang sering bolos alias bodoh ataupun mahasiswa rajin tapi bodoh selalu terbebani dengan masalah kapan saya sarjana mahasiswa seperti ini lebih parah dari mahasiswa pertama. Dan yang ketiga ada mahasiswa yang bergerak di suatu wadah atau oragnisasi yang mampu memberikan kekosongan waktunya dan memaplikasikan kemampuan yang didapatkankan di bangku kuliah kepada orang lain atau masyarakat, mahasiswa seperti ini sering disebut sebagai aktifis.

Semoga saja dari ketiga kategori tersebut mampu memberi pencerahan terhadap dinamika keterpurukan yang dialami Negara ini. Adapun salah satu persoalan di negeri ini yang selalu membudaya serta tiada henti-hentinya selalu menjamur dan berkembang subur yaitu persoalan korupsi. dimana pejabat Negara maupun penyelenggara Negara sudah banyak terbuang di dalam hotel prodeo atau jeruji besi, dalam persoalan  penegakan hukum tindak pidana korupsi tidak serta merta menjadi tanggung jawab pihak kepolisian, kejaksaan maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pengadilan, dalam persoalan memerangi tindak pidana korupsi merupakan persoalan bersama maka dari itu perlunya control dari masyarakat maupun Mahasiswa. Artinya Mahasiswa harus mengambil peran penting sebagai agen perubahan dan semestinya mampu  memahami salah satu penyebab hancurnya moral dan ketepurukan Negara tidak lepas dari kehausan dan keganasan mereka yang tidak puas-puasnya dengan uang.

semestinya ada suatu pola dan gerakan yang di bangun mahasiswa yang ada di Bangka Belitung sehingga  kepedulian dan peka terhadap persoalan tindak pidana korupsi ada yang mengawasi terutama peran serta masyarakat atau mahasiswa, Untuk mengambil peran tersebut mahasiswa harus dibekali ilmu, apa artinya berbicara korupsi tapi tidak mengerti, sama halnya dengan tong kosong nyaring bunyinya untuk permulaan bagi mahasiswa selain Fakultas hukum contoh yang termudah misalkan apa itu korupsi,? apa itu gratifikasi..? siapa saja yang melakukan korupsi..? siapa saja penegak hukum yang menangani persoalan korupsi..? dll. Secara garis besar tindak pidana korupsi sudah diatur dalam UU No 20 Tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi untuk selanjutnya mahasiswa bisa mendalami ilmu pengetahuannya dalam persoalan korupsi seperti berdiskusi kepada teman-teman, audiensi kepada penegak hukum,

ataupun melakuakan upaya edukasi terhadap generasi dibawahnya seperti seminar anti korupsi, kampanye anti korupsi dan bisa saja melaporkan ketika mendapat temuan data atau indikasi dugaan tindak pidana korupsi, terlepas korupsi yang terjadi di Indonesia sudah sedemikian sistematis dan meluas, terjadi hampir di lingkungan yudikatif, eksekutif maupun legislatif. Ada beberapa sekolah sudah menerapkan kurikulum mata pelajaran tentang anti korupsi,kolusi dan nepotisme, upaya seperti ini memang baik akan tetapi lebih baik bukan hanya dilingkungan itu saja tapi seluruh sekolah dari tingkat TK,SD,SMP,SMA maupun Universitas dari berbagai jurusan harus diajarkan mata kuliah tentang tindak pidana korupsi sehingga jiwa anti korupsi tertanam sejak dini sehingga ketika mereka selesai mengenyam pendidikan dan didalam dunia kerja jiwa anti korupsi tersebut sudah ada dan kemungkinan mampu menjadi orang yang bersih dan jauh dari KKN.

Persoalan lainnya bahwa korupsi tidak lagi dapat digolongkan menjadi kejahatan biasa melainkan sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crimes). Adapun berbagai pandangan pakar menyebutkan bahwa cara-cara pencegahan dan pemberantasan korupsi dengan pendekatan yang konvensional terbukti tidak berhasil dan mengecewakan. Masalah seperti ini menjadi PR bersama sangat menyedihkan ketika kita melihat banyaknya Sarjana hukum dari S1,S2,S3,Sampai S teller yang mempunya teori segudang tapi tak ada gunanya apalagi melihat anak-anak TK yang duduk di DPR RI tidak mampu membuat aturan yang lebih mempunyai kekuatan memberi  efek jera bagi pelaku tindak pidana korupsi.
Semoga saja tingkat tindak pidana korupsi di Indonesia menurun terlalu banyak beban-beban masyarakat yang diakibatkan mereka dan tidak luput juga, peran serta masyarakat maupun mahasiswa sangat diperlukan…!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar